Friday, December 01, 2006

First Time on Economic Class part 4

Perlahan tapi pasti kereta mulai berjalan, lega rasanya mendapatkan hembusan angin segar seraya kereta bergerak, panas yang tadinya hampir tak tertahan, hilang sudah.

Melaju melewati perkampungan, melintasi perlintasan kereta api, sinar matahari sore yang mulai mendingin, senang pada akhirnya perjalanan ini dimulai.

Memandang keluar dengan antusias . . .seperti seorang anak yang melihat mainan di etalase toko mainan . . .memperhatikan sisi lain dari kota surabaya. rumah-rumah kumuh, gubuk-gubuk yang bertebaran di sepanjang lintasan kereta api. .aktivitas warga di sore hari . . .tembok-tembok gudang dan pabrik yang mengelupas di sana sini, suram tapi ada kehidupan disana.

Bangkai-bangkai kereta teronggok diam di lintasan yang telah lama mati . . pohon-pohon pisang yang hijau di pinggir rel tanmpak kontras dengan sisi kumuh kota ini.

Bukan maksud mendramatisir apa yang ro liat . . .tapi suasana sore itu terasa sangat berbeda. mungkin seperti melihat ke dalam gulungan rol film tanpa judul, tanpa aktor utama, tanpa skenario, semua berjalan tanpa arahan sutradara, berjalan begitu saja, dari satu frame ke frame lainnya, dengan sejuta kemungkinan dan kejutan menanti di depan sana.

Mungkin itulah sisi menyenangkan naik kereta api, dimana kita dapat duduk manis dan melihat adegan kehidupan secara live di depan kita. bagaimana orang-orang dari berbagai tingkatan berada dalam satu tempat dan berinteraksi, entah apa yang terbersit dalam pikiran tiap-tiap individu yang kita liat mimik wajahnya. mungkin harap-harap cemas karena akan bertemu sanak famili yang tak lama berjua, atau menati saat bertemu kekasih, kesulitan hidup dan apa yang harus dilakukan untuk menghidupi keluarga dalam pikiran seorang ayah dan suami, istri yang sibuk berhitung apakah dana mudik akan cukup sehingga mereka dapat kembali ke rumah setelah mudik? atau seperti halnya ro yang sangat senang menantikan saat dimana akan bertemu dengan sodara-sodari yang hanya dapat dilihat wajahnya di friendster, sobat-sobat rohani.

Adegannya trus berganti-ganti dengan cepat, wajah kota berganti dengan wajah pinggiran kota. tumpukan sampah yang menggunung di suatu tempat suatu bukti aktifitas para pemulung yang mengumpulkan kerja keras mereka di tempat itu, atau ibu-ibu yang sibuk memnadikan anak-anaknya yang masih balita di dekat sumur dekat dengan rel kereta.

Lalu wajah itu berganti lagi dengan kebun dan sawah. sawah-sawah yang tak tertanami, hanya ada sisa-sisa batang padi tak tercabut, kering, berwarna coklat, dengan tumpukan sekam yang sengaja dibakar agar nantinya menjadi pupuk di saat hujan tiba. kekeringan seperti diliat televisi tampak nyata di pantai utara Jawa ini. sejauh ro memandang, hanyalah hamparan sawah kering kerontang, sungai dan kali yang mengering, menyisakan kubangan-kubangan kecil dimana anak-anak kecil senang bermain disitu.

Tetapi tidak semuanya tampak semuram itu . . .ada sisa-sisa kehidupan disana. pohon-pohon kapuk, pohon-pohon pisang, semak belukar, semak bambu, di pematang sawah, di kebun, di pinggir rel, di halaman rumah masih hijau. burung-burung beterbangan, dan semakin aktif di sore hari, membentuk formasi V dalam kawanannya seraya kembali ke sarang mereka yang entah ada dimana, ato beberapa kawanan burung kuntul putih yang elegan, berkerumun di kubangan-kubang yang tersisa di sawah. bukit kapur dengan bangunan besi menjulang di kejauhan, memberitahu bahwa ro sedang berada dekat dengan kota Gresik.

Kembali ke dalam gerbong dimana ro naik. walaupun keringat ini sudah mengering tetapi terasa tidak nyaman. rasanya seperti baru saja bekerja seharian, dan badan ini terasa lengket skali. untung saja ro memutuskan naik kereta hanya dengan kaos dan celana pendek. ini dengan maksud agar merasa nyaman saja. terus terang aja, ngapain juga pake celana panjang dan baju yang bagus, apalagi naik kereta ekonomi, kan ya taulah gimana ketidak nyamanan itu terbayang di pikiran ro . . . .walo malah entar di ketawain ma api . .well ceritanya entar aja.

Ada kejadian yang kurang "menyenangkan", disebelah ro, duduk seorang ibu dengan dua anaknya, yang satu digendong oleh ibunya, mungkin baru 2-3 tahun sementara itu yang satunya lagi duduk diantara ro dengan ibu itu, kira-2 umur 5 tahun. sementara seorang lagi, anaknya ketiganya, abg, duduk diseberang dari kiri depan tempat ro duduk.

Ada nasehat yang ro trima sebelum berangkat naik kereta . .bahwa hati-hati dengan ibu dengan anak masih kecil. . .loh emang kenapa? begitulah ro tanya kenapa. jawabannya adalah sering kali mereka membuat penumpang lain merasa tidak nyaman. biasanya si ibu akan menempatkan si anak diantara si ibu sendiri dengan kita. kalo anaknya bangun siy gapapa, tapi kalo tidur itu yang susah. karena anak itu akan menyenderkan badan ma kepalanya ke kita . . .kalo cuman sebentar siy gapapa tapi kalo lama itu yang susah, selain berat, lama-lama posisi duduk kita akan tergeser sedikit demi sedikit dan posisi sikap tubuh kita menjadi tidak nyaman.

Jadi ketika hal itu terjadi, ro walo dengan berat hati terpaksa agak "tega" ma anak itu". ketika ro ingin bergerak dan membetulkan posisi yang sudah tidak nyaman itu menyorong badan anak itu kembali ke posisi tegak sehingga beberapa kali anak itu terbangun. maap ya dik, kamu kan cuman sampe semarang, saya pe jakarta, bayangkan gimana capeknya kalo posisi duduk ga nyaman.

Selain itu, si ibu meminta ro untuk pindah ke tempat anaknya yang abg itu. tadinya ro pikir ni ibu meminta ro untuk berganti posisi tempat duduk denganya . .ro deket jendela, dia deket gang.ro pikir, mungkin karena anaknya masih balita itu kena angin kencang terus dari jendela . .kalo itu siy gapapa . .tapi ternyata tidak.

ro perhatikan kembali anak abg-nya itu, tampak oke-oke aja, gada masalah. tapi mungkin ibunya ingin mereka duduk menyatu. tapi sikonnya ga memungkin ro untuk menuruti permintaannya.

Pertama, tempat ini adalah hasil perjuangan ro datang lebih pagi, mandi keringat karena ga berani beranjak dari tempat duduk karena takut diambil orang lain selama hampir 3 jam. perjalanann ro masih sangat panjang, sedangkan mereka cuman sampai semarang, ditambah lagi ro gatau situasinya akan lebih baik atau malah tambah buruk dengan semakin penuhnya kereta setiap berhenti.

Jadi ro menolak permintaan itu walapun dengan berat hati juga. tapi ro tidak melihat urgensinya untuk memenuhi permintaan ibu itu. tapi si ibu ini konsisten juga, minta berkali-kali . .dengan senyum, ro hanya menggelengkan kepala tanda tidak setuju. . .diminta berkali-kali sampai ro bener-bener sebel sampai buang muka aja . .nah disaat itu si ibu itu berhenti meminta.

Nyebelin deh . . .


Udara semakin sejuk, sinar matahari kadang masuk kedalam gerbong melalui jendela-jendela disisi kiri, kembali melihat keluar gerbong . . .baru aja melewati perbatasan jawa timur-jawa tengah . .. sementara jalan dipenuhi kendaraan bermotor penuh dengan para pemudik . . . .


to be continued to the last part . . .

5 comments:

New Girl said...

like reading a novel but in parts...

Anonymous said...

never thought it would read like a novel, just something to write with, nothing special, heheheheheheheh

New Girl said...

are you serious? i loved it. how did you remember all the details? did you have a notebook or something. just curious. i definitely see ya as a writer. well done. you should work for a journalist or something.

New Girl said...

i mean you should work as a journalist well you know what i mean.

Roland Ruben said...

hahahahahahaha . .thx Xen . .kayaknya karena gw happy makanya ro bisa ingat detail-detail walopun sebenarnya dah banyak juga yang ga lengkap . . sudah banyak juga missing dari memory gw Xen . .btw catatan hanya sedikit sekali hanya pe 4 jam pertama, itupun juga sedikit sekali selain itu, hanya mengandalkan ingatan saja